Nasib Berbeda Google dan Meta di Era AI: Siapa Paling Cuan?

Selama dua dekade terakhir, Google dan Meta sudah seperti penguasa jagat internet yang tak tergoyahkan. Keduanya berhasil meraup triliunan dolar hanya dari bisnis iklan, baik itu lewat mesin pencari maupun media sosial. Namun, sekarang situasinya mulai berubah sejak kecerdasan buatan atau AI meledak di pasaran. Ternyata, dampak AI bagi kedua raksasa ini nggak sama, lho. Ada yang makin tajir, tapi ada juga yang mulai merasa was-was.

artificial intelligence

Kalau kita intip data pada kuartal ketiga tahun 2026, ada pemandangan yang cukup kontras. Bisnis iklan Meta ternyata tumbuh dua kali lebih kencang dibandingkan unit-unit bisnis milik Google. Fenomena ini tentu bikin banyak analis menoleh, karena selama ini Google selalu dianggap sebagai raja iklan digital yang sulit ditandingi.

Meta yang Makin Moncer Berkat AI

Mark Zuckerberg sepertinya nggak main-main saat bilang kalau investasi besar perusahaannya di bidang AI bakal membuahkan hasil. Strategi Meta cukup cerdas: mereka menggunakan AI untuk memperkuat sistem penargetan iklan. Hasilnya? Para brand yang pasang iklan di Facebook dan Instagram merasa performa promosi mereka jauh lebih efektif karena AI bisa menemukan calon pembeli dengan lebih akurat.

Jujur saja, langkah Meta ini terasa sangat pas dengan kebutuhan pasar saat ini. Pendapatan Meta melonjak drastis sebesar 26 persen menjadi US$63,1 miliar atau setara Rp1.146 triliun pada kuartal ketiga tahun ini. Padahal, di periode yang sama tahun lalu, angka mereka masih di kisaran US$50,1 miliar. Pertumbuhan yang sangat masif untuk perusahaan seukuran Meta.

Ancaman Chatbot bagi Kerajaan Google

Di sisi lain, Google justru sedang menghadapi tantangan yang cukup berat. Masalah utamanya adalah perubahan perilaku pengguna internet. Sekarang, orang-orang mulai beralih ke chatbot AI sebagai alternatif pencarian informasi. Kalau dulu kita harus mengetik kata kunci di Google lalu mengklik berbagai tautan situs web, sekarang kita tinggal tanya ke chatbot dan langsung dapat jawabannya.

Nah, di sinilah letak masalahnya. Kalau orang nggak lagi mengklik tautan situs web, otomatis iklan yang biasanya mejeng di sana jadi jarang terlihat. Selain itu, banyak pengguna yang kini menghabiskan lebih banyak waktu mereka di media sosial milik Meta daripada sekadar browsing di Google. Ini tentu jadi sinyal bahaya buat pundi-pundi uang Google.

"Ini seperti pedang bermata dua. Seiring AI merevolusi penemuan internet (discovery), orang mungkin menemukan alat yang lebih mereka sukai daripada Google," kata analis AI Emarketer Nate Elliott, dikutip dari CNBC, Minggu (1/11).

Analis AI dari Emarketer, Nate Elliott, menilai bahwa perubahan kebiasaan ini bisa menjadi titik balik yang krusial. Jika alat-alat seperti ChatGPT, Claude, atau Muse terbukti lebih efektif membantu orang menemukan informasi, maka dominasi Google yang sudah bertahan selama satu generasi bisa goyah.

"Jika ChatGPT, Claude, atau Muse lebih baik dalam membantu mereka menemukan apa yang mereka cari, kebiasaan pencarian orang mungkin berubah untuk pertama kalinya dalam satu generasi. Itu berpotensi menjadi bencana bagi bisnis iklan Google," tambah Elliott.

Perbandingan Angka dan Investasi Jumbo

Kalau kita bandingkan secara langsung, pertumbuhan Google Search hanya mencapai 12 persen dengan nilai US$63,4 miliar (sekitar Rp1.151 triliun). Meskipun secara nominal masih sedikit di atas Meta, tapi selisih pertumbuhan sebesar 14 poin persentase ini adalah yang terbesar sejak tahun 2021. Ini menunjukkan kalau Meta mulai mengejar ketertinggalannya dengan sangat cepat.

Memang sih, Google masih punya cadangan kekuatan dari YouTube yang menyumbang tambahan pendapatan sebesar US$11 miliar atau Rp200 triliun. Tapi tetap saja, tren pertumbuhan Meta ini nggak bisa dianggap remeh. Kedua perusahaan ini sekarang sedang dalam posisi yang hampir setara dalam hal skala pendapatan iklan.

Untuk menjaga taji mereka, Meta terus mengembangkan Meta AI yang diintegrasikan ke sistem Ads Manager. Google pun nggak tinggal diam dengan menyematkan model Gemini ke seluruh infrastruktur iklannya. Keduanya pun rela bakar duit dalam jumlah yang bikin geleng-geleng kepala demi membangun layanan AI terbaru.

  • Google memproyeksikan pengeluaran modal (capex) hingga US$205 miliar atau sekitar Rp3.724 triliun tahun ini.
  • Meta memperkirakan akan menghabiskan dana hingga US$145 miliar atau setara Rp2.634 triliun.

Satu hal yang perlu diingat, Google sebenarnya jauh lebih aman dalam hal diversifikasi bisnis. Iklan hanya menyumbang kurang dari dua pertiga dari total pendapatan mereka. Bandingkan dengan Meta yang masih sangat bergantung pada iklan, di mana 98 persen total pendapatannya berasal dari sana. Jadi, meskipun Meta sedang naik daun, mereka tetap punya risiko yang lebih besar kalau pasar iklan digital tiba-tiba lesu.

0 Komentar