Ratusan Peti Jenazah di Toraja Utara Hangus Akibat Karhutla

Kabar duka menyelimuti masyarakat di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi baru-baru ini ternyata nggak cuma merusak ekosistem hutan, tapi juga menyentuh sisi paling sakral bagi warga setempat. Api dilaporkan merembet hingga ke kawasan pemakaman tradisional Liang Pongtimban, yang mengakibatkan ratusan peti jenazah di sana hangus terbakar.

cliff burial

Jujur saja, ini adalah kejadian yang sangat memprihatinkan. Bayangkan saja, tempat yang seharusnya menjadi peristirahatan terakhir yang tenang bagi para leluhur, malah ludes dilalap si jago merah. Kejadian ini menambah daftar panjang kerugian akibat karhutla yang sering melanda wilayah pegunungan saat musim kemarau tiba.

Kronologi Api Mencapai Tebing Liang Pongtimban

Peristiwa kebakaran yang memilukan ini sebenarnya terjadi pada Jumat (23/10) lalu. Lokasi tepatnya berada di Dusun Salurea Rangri, Kelurahan Baruppu' Selatan, Kecamatan Baruppu'. Wilayah ini memang dikenal memiliki kontur tanah yang berbukit-bukit dengan tebing batu yang curam, yang biasanya dimanfaatkan warga untuk menyimpan peti jenazah.

Kepala BPBD Toraja Utara, Paulus Batti, menjelaskan bahwa api karhutla bergerak sangat cepat dan merambat hingga ke area pemakaman yang berada di tebing-tebing batu tersebut. Kondisi angin dan vegetasi yang kering disinyalir menjadi pemicu api sulit dikendalikan hingga akhirnya mencapai liang-liang batu tempat penyimpanan peti.

Meskipun kerusakan terlihat cukup parah secara visual, pihak BPBD masih menunggu data yang lebih valid mengenai jumlah pasti peti yang terdampak. "Mungkin ada (peti jenazah terbakar), tapi belum ada info pasti yang kita terima secara resmi," ungkap Paulus Batti saat memberikan keterangan pada Senin (26/10). Namun, laporan dari lapangan menunjukkan bahwa puluhan liang batu yang berisi ratusan peti jenazah sudah terdampak suhu panas dan jilatan api.

Makna Liang Pongtimban bagi Warga Baruppu'

Buat kalian yang belum tahu, Liang Pongtimban itu bukan sekadar lubang di batu. Bagi masyarakat Toraja, liang adalah pemakaman tradisional yang sangat dihormati. Lubang-lubang di tebing batu ini biasanya digunakan secara turun-temurun oleh satu rumpun keluarga besar. Jadi, satu liang bisa berisi banyak peti jenazah dari beberapa generasi.

Nah, karena lokasinya yang terbuka di dinding tebing, peti-peti yang terbuat dari kayu ini memang sangat rentan kalau ada api yang mendekat. Kebakaran ini nggak cuma menghancurkan fisik peti, tapi juga melukai perasaan keluarga yang ditinggalkan. Wajar sih kalau banyak warga yang merasa terpukul dengan kejadian ini, karena bagi mereka, merawat makam leluhur adalah bagian penting dari adat istiadat.

Langkah Hukum dan Penyelidikan Polisi

Melihat dampak kerusakan yang nggak main-main, pihak pemerintah setempat pun langsung mengambil tindakan tegas. Lurah Baruppu' Selatan, Natan Pongtoko, mengaku sudah melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib. Ia ingin agar penyebab pasti kebakaran ini diselidiki, apakah murni karena faktor alam atau ada unsur kelalaian manusia.

"Saya sudah ke Polres melapor supaya Polres Toraja Utara mengusut tuntas kejadian ini," tegas Natan saat dimintai keterangan secara terpisah. Langkah ini diambil agar ada kejelasan dan mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan.

Pihak kepolisian pun merespons laporan tersebut dengan cepat. Kasat Reskrim Polres Toraja Utara, Iptu Ruxon, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima aduan dari Lurah Baruppu' Selatan. Saat ini, kepolisian tengah melakukan langkah-langkah awal untuk mendalami kasus kebakaran ini. "Iya benar, kami segera lengkapi administrasinya," kata Ruxon singkat.

Ke depannya, tentu kita berharap ada upaya pencegahan karhutla yang lebih ketat, terutama di area-area yang berdekatan dengan situs budaya atau pemakaman tradisional. Kejadian di Baruppu' ini jadi pengingat keras bahwa api nggak cuma mengancam hutan, tapi juga identitas dan sejarah yang tersimpan di dalam peti-peti kayu di tebing Toraja.

"Saya sudah ke Polres melapor supaya Polres Toraja Utara mengusut tuntas kejadian ini," kata Lurah Baruppu' Selatan, Natan Pongtoko terpisah.
"Iya benar, kami segera lengkapi administrasinya," kata Ruxon.

0 Komentar