Kemenag Siapkan Skema PJJ Pesantren Akibat Kabut Asap Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda beberapa wilayah di Indonesia mulai memberikan dampak serius, tidak terkecuali pada sektor pendidikan. Menanggapi situasi ini, Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama bergerak cepat menyiapkan mekanisme Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Langkah darurat ini khusus disiapkan bagi pondok pesantren yang berada di wilayah terdampak kabut asap, terutama di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

forest fire smoke

Direktur Jenderal Pesantren, Basnang Said, menjelaskan bahwa kebijakan ini bukan tanpa dasar. Pelaksanaan PJJ bagi satuan pendidikan keagamaan, termasuk madrasah dan pesantren, mengacu pada Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 3 Tahun 2026 yang sudah ditetapkan sejak 20 Agustus 2026 lalu. Jadi, secara regulasi, payung hukumnya sudah siap digunakan kapan saja saat kondisi darurat terjadi.

Pendataan Pesantren Terdampak Terus Berjalan

Saat ini, pihak Kemenag masih terus bergerak mengumpulkan data di lapangan. Koordinasi dilakukan secara intensif dengan Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) di berbagai Kantor Wilayah Kemenag provinsi. Tujuannya jelas, agar bantuan atau kebijakan yang diambil tepat sasaran dan sesuai dengan tingkat keparahan kabut asap di masing-masing lokasi.

"Untuk mengantisipasi dampak kebakaran hutan dan lahan, kami telah menyiapkan mekanisme PJJ mengacu pada surat edaran yang telah diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam. Saat ini data rincinya sedang kami himpun dari Kepala Bidang PD Pontren di wilayah Sumatera dan Kalimantan, termasuk beberapa daerah di Sulawesi yang turut terdampak Karhutla," ujar Basnang, mengutip informasi dari laman resmi Kemenag pada Jumat (23/10).

Nah, yang perlu dipahami adalah PJJ di lingkungan pesantren ini punya tantangan tersendiri. Berbeda dengan sekolah umum di mana muridnya pulang ke rumah masing-masing, santri di pesantren mayoritas tinggal di dalam asrama atau mondok. Kondisi ini membuat skema belajar jarak jauh harus dilakukan secara adaptif, menyesuaikan fasilitas yang ada di tiap-tiap pesantren.

Metode Satu Layar: Inovasi Belajar di Tengah Asap

Salah satu solusi menarik yang ditawarkan adalah metode "Satu Layar". Bagi pesantren yang punya fasilitas layar besar atau proyektor, para santri bisa tetap berkumpul di satu ruangan tertutup yang terlindung dari paparan asap luar. Di sana, mereka menyimak materi bersama-sama, sementara kiai atau pengajar menyampaikan pelajaran dari ruangan terpisah atau kediaman masing-masing.

Jujur saja, cara ini cukup efektif untuk menjaga kesehatan santri tanpa harus menghentikan kegiatan belajar mengajar sepenuhnya. Basnang menyebutkan bahwa fleksibilitas ini sangat penting agar kualitas pendidikan tetap terjaga meski dalam kondisi darurat bencana.

Langkah ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat fasilitas kesehatan dan pendidikan di lingkungan pesantren. Apalagi, kondisi di lapangan memang sedang tidak baik-baik saja akibat kebakaran lahan yang meluas.

Data BNPB: Enam Provinsi Jadi Prioritas

Berdasarkan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), situasi karhutla memang cukup mengkhawatirkan. Hingga Rabu (21/10), tercatat ada sekitar 1.481 hektare lahan yang masih terbakar di berbagai titik di Indonesia. Luasan ini tersebar di enam provinsi prioritas penanganan karhutla, yaitu:

  • Kalimantan Tengah
  • Sumatera Selatan
  • Jambi
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Barat
  • Riau

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, memberikan rincian lebih lanjut dalam keterangannya pada Kamis (22/10). Dari total area sasaran penanganan yang mencapai lebih dari 983 hektare, tim di lapangan sudah berhasil memadamkan sekitar 502 hektare. Namun, masih ada lebih dari 481 hektare lahan yang hingga kini masih dalam proses pemadaman intensif.

Wajar sih kalau banyak pihak merasa khawatir, mengingat kabut asap akibat karhutla ini punya dampak jangka panjang bagi pernapasan, terutama bagi para santri yang beraktivitas penuh di lingkungan pesantren. Semoga saja kondisi udara segera membaik dan hujan bisa segera turun untuk membantu proses pemadaman lahan yang masih membara nih.

"Dari total area sasaran penanganan seluas lebih dari 983 hektare, lebih dari 502 hektare telah dipadamkan, sedangkan lebih dari 481 hektare masih dalam penanganan," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya dikutip Kamis (22/10).

0 Komentar