Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas yang seharusnya jadi momen penuh seremoni formal, kali ini terasa sangat berbeda. Alih-alih cuma ikut upacara bendera yang kaku, ratusan mahasiswa justru memilih untuk turun ke jalan dan mendatangi kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Suasananya riuh, penuh dengan warna-warni jaket almamater dari berbagai kampus yang menyatu dalam satu barisan tuntutan.
Pemandangan ini jelas mencuri perhatian publik. Sejak pagi, massa sudah mulai berkumpul dan bergerak menuju titik utama aksi. Nah, yang bikin suasana makin panas bukan cuma matahari yang terik, tapi juga orasi-orasi tajam yang diteriakkan lewat pengeras suara. Mereka seolah ingin mengingatkan pemerintah kalau urusan pendidikan itu nggak cuma soal angka di atas kertas, tapi soal nasib anak muda yang ingin kuliah tanpa harus tercekik biaya.
Kenapa Harus Kemendiktisaintek?
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa sih kantor Kemendiktisaintek yang jadi sasaran utama? Jujur saja, ini cukup masuk akal karena kementerian ini memegang kendali penuh atas kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia. Mahasiswa merasa suara mereka sering kali cuma mampir di telinga tanpa benar-benar diubah jadi kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.
Aksi "geruduk" ini bukan tanpa alasan kuat. Mahasiswa membawa sejumlah rapor merah yang mereka tujukan langsung kepada para pengambil kebijakan. Di depan gerbang kementerian, mereka membentangkan spanduk-spanduk raksasa yang isinya kritik pedas. Kalau dilihat-lihat, semangat mereka ini menunjukkan kalau idealisme di kampus itu masih sangat hidup, lho.
Isu UKT dan Komersialisasi Pendidikan
Salah satu poin utama yang diteriakkan dalam demo Hardiknas kali ini adalah soal biaya kuliah atau UKT yang makin hari makin nggak masuk akal bagi sebagian orang. Mahasiswa menilai ada kecenderungan pendidikan tinggi sekarang makin mirip barang mewah yang cuma bisa dibeli sama mereka yang punya uang saja. Berikut beberapa poin yang sering muncul dalam tuntutan mereka:
- Transparansi penetapan golongan UKT di setiap kampus.
- Penolakan terhadap segala bentuk komersialisasi di lingkungan universitas.
- Tuntutan peningkatan kualitas fasilitas pendidikan yang sebanding dengan biaya yang dibayarkan.
- Jaminan kebebasan berpendapat di dalam kampus tanpa bayang-bayang drop out.
Wajar sih kalau mereka marah. Bayangkan saja, banyak mahasiswa yang harus berjuang mati-matian, bahkan ada yang sampai kerja sampingan ekstrem, cuma buat bayar semesteran. Ketika Hardiknas tiba, momen ini jadi puncak dari kegelisahan yang sudah mereka pendam selama ini.
Atmosfer di Lapangan: Panas tapi Terkendali
Meskipun judulnya "geruduk", tapi aksi ini tetap berjalan dengan koordinasi yang lumayan rapi. Para koordinator lapangan terus mengingatkan massa agar tidak terprovokasi. Sesekali terdengar nyanyian lagu-lagu perjuangan mahasiswa yang bikin merinding siapa pun yang lewat di depan kantor kementerian tersebut. Petugas keamanan pun tampak berjaga ketat di balik pagar besi, memastikan situasi tidak lepas kendali.
Yang jelas, aksi ini jadi pengingat keras bagi Kemendiktisaintek. Pendidikan itu hak dasar, bukan komoditas bisnis. Kalau mahasiswa sudah sampai turun ke jalan di hari yang seharusnya mereka rayakan dengan prestasi, berarti ada sesuatu yang memang sedang tidak baik-baik saja dalam sistem kita.
Sampai sore hari, massa masih bertahan, menunggu ada perwakilan dari kementerian yang mau keluar dan berdialog langsung. Mereka nggak mau cuma sekadar menitipkan surat tuntutan yang nantinya cuma jadi tumpukan kertas di meja kantor. Mahasiswa ingin janji nyata, atau setidaknya ruang diskusi yang jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Kejadian di Hardiknas tahun ini sepertinya bakal jadi catatan penting buat perjalanan pendidikan kita ke depannya. Kita tunggu saja, apakah aksi ini bakal membuahkan hasil manis atau justru cuma jadi angin lalu yang terlupakan saat matahari terbenam nanti.
0 Komentar