Filipina Resmi Umumkan Darurat Energi, Indonesia Dinilai Punya Bantalan Kuat

  

Banyumas.co - Presiden Filipina Ferdinand R Marcos Jr. Resmi memberitahu ke masyarakat bahwa negara yang ia pimpin mengalami darurat energi.

Hal ini dipicu pasokan Bahan Bakar Minyak di Filipina mulai langka imbas perang Amerika Serikat - Iran. 

Deklarasi tersebut ditetapkan melalui Perintah Eksekutif (EO) Nomor 110 yang ditandatangani hari ini, Selasa (24/3/2026), dengan mempertimbangkan posisi Filipina sebagai negara yang sangat bergantung pada impor produk minyak bumi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia dinilai mempunyai sebuah bantalan kuat (strong buffer) untuk ketahanan BBM di tengah krisis energi global karena terdapat cadangan minyak terbukti menyentuh angka 4,4 miliar barel.

Ketahanan ini diperkuat oleh diversifikasi energi (panas bumi, surya, kendaraan listrik) dan posisi risiko rendah seperti dikutip dari The Economist.

Penyebab Krisis Energi:

Krisis energi global dipicu oleh beberapa faktor utama. Pertama, ketegangan geopolitik di kawasan penghasil energi seperti Timur Tengah, Rusia, dan Afrika Utara mengganggu rantai pasok minyak dan gas. Konflik bersenjata dan sanksi ekonomi membuat distribusi energi global semakin tidak stabil.

Kedua, permintaan energi dunia terus meningkat seiring pemulihan ekonomi pasca pandemi dan pertumbuhan industri di negara berkembang. Lonjakan permintaan ini menekan pasokan yang terbatas, sehingga harga energi melonjak drastis.

Ketiga, transisi energi global menuju energi terbarukan menciptakan tekanan tambahan pada pasokan energi fosil. Pengurangan investasi di sektor batu bara, minyak, dan gas yang sebelumnya dianggap ramah lingkungan dapat menimbulkan kekosongan pasokan sementara permintaan masih tinggi.*

0 Komentar