3 Jenis Busuk Cabai di Musim Hujan yang Perlu Diwaspadai Petani

  

Banyumas.co - Musim hujan sering menjadi tantangan besar bagi petani cabai. Curah hujan yang tinggi, kelembapan berlebih, serta drainase lahan yang kurang baik dapat memicu munculnya berbagai penyakit, terutama penyakit busuk pada cabai.

Jika tidak ditangani dengan tepat, busuk cabai dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen secara signifikan. Oleh karena itu, penting bagi petani untuk mengenali jenis-jenis busuk cabai yang umum terjadi di musim hujan agar dapat melakukan pencegahan dan penanganan sedini mungkin. Berikut ini tiga jenis busuk cabai yang paling sering menyerang saat musim hujan.

1. Busuk Buah Antraknosa (Patek)

Busuk buah antraknosa, yang sering dikenal petani dengan sebutan patek, merupakan penyakit paling umum dan merugikan pada tanaman cabai di musim hujan. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. Jamur ini berkembang pesat pada kondisi lembap dengan suhu sedang, sehingga musim hujan menjadi waktu yang sangat ideal untuk penyebarannya.

Gejala busuk antraknosa ditandai dengan munculnya bercak kecil berwarna cokelat kehitaman pada permukaan buah cabai. Seiring waktu, bercak tersebut melebar dan membentuk cekungan seperti mata ikan. Pada kondisi parah, seluruh buah akan membusuk, mengering, dan akhirnya rontok.

Penyakit ini dapat menyerang buah muda maupun buah yang hampir panen.
Pencegahan busuk antraknosa dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun, memangkas bagian tanaman yang terserang, serta mengatur jarak tanam agar sirkulasi udara baik. Selain itu, penggunaan varietas cabai yang tahan penyakit dan penyemprotan fungisida sesuai dosis juga dapat membantu menekan serangan.

2. Busuk Pangkal Batang (Layu Fusarium)

Jenis busuk berikutnya yang sering muncul di musim hujan adalah busuk pangkal batang atau layu fusarium. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum yang hidup di dalam tanah. Jamur ini mudah berkembang pada tanah yang tergenang air dan memiliki drainase buruk, kondisi yang sering terjadi saat hujan turun terus-menerus.

Gejala awal busuk pangkal batang biasanya ditandai dengan tanaman tampak layu meskipun tanah dalam kondisi basah. Daun menguning, menggulung, dan akhirnya tanaman mati. Jika pangkal batang dibelah, akan terlihat jaringan berwarna kecokelatan sebagai tanda infeksi jamur. Akar tanaman juga membusuk sehingga tidak mampu menyerap air dan nutrisi dengan baik.

Untuk mencegah busuk pangkal batang, petani perlu memperhatikan sistem drainase lahan agar air tidak menggenang. Rotasi tanaman juga sangat dianjurkan untuk memutus siklus hidup jamur di tanah. Penggunaan pupuk organik matang dan agen hayati seperti Trichoderma dapat membantu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit ini.

3. Busuk Akar dan Busuk Buah oleh Phytophthora

Busuk cabai lainnya yang kerap menyerang di musim hujan disebabkan oleh patogen Phytophthora capsici. Penyakit ini dapat menyerang akar, batang, hingga buah cabai. Kondisi tanah yang terlalu lembap dan suhu rendah sangat mendukung perkembangan patogen ini.

Gejala busuk akar biasanya ditandai dengan akar berwarna cokelat kehitaman dan mudah hancur. Tanaman menjadi layu secara tiba-tiba dan pertumbuhannya terhambat. Pada buah, serangan Phytophthora menyebabkan buah membusuk dengan warna cokelat kehitaman, berair, dan berbau tidak sedap.

Pengendalian busuk akibat Phytophthora dapat dilakukan dengan memperbaiki drainase lahan, menggunakan bedengan yang lebih tinggi, serta menghindari penyiraman berlebihan. Sanitasi kebun dan pemusnahan tanaman yang terinfeksi juga penting untuk mencegah penyebaran penyakit ke tanaman sehat.*

0 Komentar