Banyumas.co - Aksi demonstrasi mengerikan mengakibatkan kematian, kehancuran, dan pembakaran yang berdatangan dari Kathmandu, Nepal, setelah protes nasional menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri KP Sharma Oli.
Aksi kian anarkis, pihak militer Nepal mengambil alih kendali untuk memastikan ketenangan di negara Himalaya tersebut hingga pemerintahan baru terbentuk.
Jam malam telah diberlakukan, dan militer menyatakan berbagai insiden vandalisme, penjarahan, atau serangan terhadap individu akan berujung pada tindakan tegas oleh keamanan.
Pria yang menjadi sorotan publik Nepal adalah Jenderal Ashok Raj Sigdel, Kepala Staf Angkatan Darat, yang telah mengimbau para pengunjuk rasa untuk berunding guna menemukan jalan keluar yang damai.
Jenderal berusia 58 tahun itu, mengambil alih jabatan tertinggi Tentara tahun lalu, ia menyampaikan pidato di televisi kepada rakyat yang terguncang tadi malam.
"Kami mengimbau kelompok pengunjuk rasa untuk menghentikan program protes dan berdialog untuk mencapai jalan keluar yang damai bagi bangsa. Kita perlu menormalkan situasi sulit saat ini dan melindungi warisan sejarah dan nasional kita, serta properti publik dan pribadi, dan memastikan keselamatan masyarakat umum dan misi diplomatik," kata sang Jenderal.
Selain itu pemimpin tertinggi militer menyampaikan belasungkawa atas hilangnya nyawa dan harta benda selama kekerasan yang dimulai pada 8 September.
"Sejak awal sejarah Nepal, militer Nepal selalu berkomitmen - bahkan dalam situasi sulit - untuk menjaga kemerdekaan, kedaulatan, integritas wilayah, kebebasan, persatuan nasional, dan keamanan rakyat Nepal," pungkasnya.*

0 Komentar